Tepat pada 28 Januari 2010 Mendatang, Usia rezim SBY genap 100 Hari. Di isukan pada hari itu akan turun ribuan Massa untuk mengevaluasi, bahkan di sinyalir berpotensi pada penggulingan kekuasaan pemerintahan SBY-Boediono dan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II nya. Revolusi, jika hal itu betul terjadi maka ada harapan baru bagi Indonesia, untuk menyongsong kembali kedaulatanya sebagai bangsa, yang selama ini telah tergadaikan sementara.
Tifatul, yang juga bagian dari Pemerintahan SBY sebagai menkominfo sebagaimana di beritakan Media Indonesia mengatakan bahwa, program prioritas pemerintah pada 100 hari pertama adalah untuk membangun pondasi sehingga tidak bisa diharapkan semuanya tercapai. “Ibarat membangun rumah, program 100 hari pertama ini baru membangun pondasinya. Jadi wajar kalau hasilnya belum terlihat,” saat diskusi Evaluasi 100 Hari Kabinet di Jakarta, Sabtu (23/1).
Apa yang disampaikan mantan orang Nomor satu PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ini, tidaklah rasional dan ahistoris. mengada-ada dan apologis, menafikan Pemerintahan SBY yang berjalan sebelumnya, Yaitu KIB Jilid I. jika seratus hari yang telah berlalu ini terlepas dari lima tahun sebelumnya. dimanakah SBY waktu itu, di surga? Berapa banyak uang Negara dan sumber daya alam milik Negara yang saat itu terekploitasi? Mau Sampai kapan membangun pondasi?
Apakah wajar, Jika dengan kekayaan alam melimpah, sumber daya manusia yang begitu banyak dan didukung oleh kepercayaan rakyat Indonesia yang total. Ditambah lagi, energi, waktu yang sudah cukup banyak dikeluarkan oleh Negara ini, ternyata belum menunjukkan kemajuan yang signifikan, bahkan terlihat Mundur?
Mari kita lihat Program seratus hari pertama, sebagaimana di beritakan beberapa media seperti apindonesia misalnya , akan memprioritaskan 15 Program dari 45 program yang ada, program prioritas itu antara lain:
1. Pemberantasan mafia hukum.
2. Melakukan revitalisasi industri pertahanan.
3. Penanggulangan terorisme.
4. Mengatasi permasalahan listrik.
5. Meningkatkan produksi dan ketahanan pangan.
6. Revitalisasi pabrik pupuk dan gula.
7. Membenahi kompleksitas penggunaan tanah dan tata ruang.
8. Peningkatan infrastruktur.
9. Meningkatkan pinjaman Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah yang dikaitkan dengan Kredit Usaha Rakyat.
10. Mengenai pendanaan, masih harus memobiliasi sumber pembiayaan di luar APBN-APBD.
11. Menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan.
12. Melakukan reformasi kesehatan dengan mengubah paradigma masyarakat.
13. Reformasi di bidang pendidikan, dengan menyambungkan atau mencegah mismatch antara yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan dengan keperluan pasar tenaga kerja.
14. Kesiap-siagaan dalam penanggulangan bencana alam.
15. Melakukan koordinasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan di segala bidang.
Dari program prioritas yang disebutkan diatas, tidak satupun memperlihatkan kearah yang lebih maju dan perkembangan, malah sebaliknya. Pemberantasan mafia hukum misalnya, sebagai prioritas pertama. masyarakat hari ini dan setiap hari justru disuguhi oleh berita-berita bagaimana hukum di Indonesia ini telah porak poranda. Kasus Anggodo, Nikmatnya penjara Ayin, disatu sisi dan di penjarakanya nenek minah gara-gara tiga buah kopi di sisi lain adalah wajah buran Hukum kita, mana letak program prioritas itu?
Beberapa waktu yang lalu kita juga di suguhkan sebauh Fenomena dimana di fasilitasinya beberapa mentri dengan mobil mahal seharga 1,3 M merupakan tamparan terhadap keadilan dan tarian diatas penderitaan masyarakat.
Kasus Century yang seharusnya ada pertanggungjawaban dan ketegasan SBY selaku Pemimpin tertinggi saat itu, nyatanya sampai sekarang terkesan di lemparkan pada para bawahan. Padahal dalam system presidensil semua kekuasaan bermuara pada presiden, artinya tidak ada satu kebijakanpun tanpa persetujuan presiden, hal inilah yang membedakan dengan system parlementer.
Beberapa poin yang lainpun tidak terlihat perkembanganya, revitalisasi industri pertahanan, penanggulangan terorisme, permasalah listrik, meningkatkan produksi dan ketahanan pangan dan seterusnya hanyalah omong kosong belaka. Agaknya benar dan relevan apa yang pernah di sampaik

No comments:
Post a Comment