Friday, 15 March 2013

Politik Kaum Militer 2014

Keberadaan politik militer didalam sejarah Indonesia merdeka, memiliki sejarah yang panjang. Pada masa Bung Karno, politik militer pada awal pemerintahannya masih bisa terkontrol. Kharisma Bung Karno masih teramat kuat. Sehingga tidaklah mudah bagi kaum militer untuk mendongkel kekuasaan politik sipil. Jendral Nasution dengan manuver tanknya di Istana Merdeka di bulan Oktober 1952 sudah menunjukkan “risih”nya kaum militer terhadap kepemimpinan sipil, yang dianggap tidak berdisiplin dan terlalu bertele-tele.

Pada masa kepemimpinan Pak Harto, politik kaum militer mencapai puncaknya. Dengan dibungkus Dwi Fungsi ABRI, sendi-sendi pemerintahan dikuasai oleh kaum militer sampai ke akar-akarnya, sehingga tidak ada lagi ruang terbuka untuk politik kaum sipil. Pergerakan kaum sipil mengalami kekalahan telak ketika, PKI,  sebagai salah satu kekuatan politik sipil terberangus. Kaum militer yang mengetahui besarnya kekuatan ini dengan segera menumpas habis kekuatan sipil yang salah langkah ini.  Terperangkap ataupun tidak kekuatan politik sipil telahlah habis di tahun 1965. Dan keberadaan para militer ini membuat suasana perpolitikan di Indonesia menjadi kaku dan tunduk pada hirarki. Komandan selalu benar dan setiap keputusan komandan haruslah dihormati dan dilaksanakan. Kedisiplinan politik kaum militer ini harus kita akui lebih baik dari para politisi sipil.

Di era yang disebut Era Reformasi, akibat terlalu lamanya politisi militer berkuasa, kegiatan para militer itu mulai dibatasi. Tetapi institusi TNI tidak lah mandek untuk melahirkan kepemimpinan yang berkualitas dan itu terbukti dengan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden Republik Indonesia sampai dua periode. Dimasa pemerintahannya memang tidak kita jumpai lagi gaya politik kaum militer yang kaku, yang kita temui gaya politik yang cair dan lamban khas politisi sipil, mungkin ini juga ditinjau dari latar belakang SBY yang bukan merupakan orang lapangan tulen.

Sampai sekarang gaya kepemimipinan militer atau pemimpin yang berlatar belakang militer masih disukai rakyat. Entah itu kita terlalu lama dipimpin sang Jendral Besar atau karena faktor ketegasan dan keberanian yang merupakan ciri utama, yang diharapkan,  dari pemimpin yang berlatar belakang militer (walaupun itu tidak kita temukan di dalam diri SBY – tetapi masih terlihat dalam gaya kepemimpinannya di Partai Demokrat)

Dan dalam bursa Presiden 2014, nama Prabowo masih menjadi pilihan utama dibandingkan para poltisi sipil seperti Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, ataupun Megawati.  Dan kans Prabowo untuk menjadi presiden mendatang sangatlah kuat. Dia seperti punya semuanya kharisma, kekuatan ekonomi dan ketegasan yang diimpikan rakyat. Hal yang mungkin dapat menjegalnya adalah masalah penculikan aktivis, Mei 1998, dan faktor orang tuanya begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo yang merupakan pendukung PRRI yang disupport oleh CIA.

Jendral Wiranto yang sekarang mendapat dukungan kuat dari taipan media Harry Tanoe juga menunjukkan hegemoni politik kaum militer di Pemilu 2014. Memang dalam dua pemilu terakhir namanya kurang bersinar, tapi dengan dukungan media, kemungkinan popularitas dari Jendral Wiranto bisa terdongkrak. Bahkan kaum militer yang belum begitu terbukti kepemimpinannya seperti sebut saja Jendral Pramono Edhie bisa meramaikan bursa pemilihan Presiden 2014.

Siapa pemimpin kalangan sipil yang bisa menjegal sepak terjang para politisi militer ini ? Ketiga nama yang disebut diatas tidaklah begitu kuat untuk menahan derasnya sepak terjang para tentara ini. Mungkin hanya popularitas dan sikap egaliter dari Jokowi, sebagai salah satu kekuatan tokoh sipil, yang bisa meredam laju kekuatan mesin militer ini. Tetapi sepertinya kepemimpinan Jokowi harus diuji dulu dalam membangun Jakarta, yang sampai sekarang belum terlihat jelas pola dan arahnya.
Jadi bersiaplah para politisi sipil dan rakyat Indonesia menantikan perang bintang di Pemilu 2012.

(Nua Ardante : Kompasiana)

Friday, 8 February 2013

Manusia dan Tuhan

Dimasa-masa remaja seperti ini tentunya pembahasan yang paling menarik dan indah yaitu tentunya ASMARA kan, atau mungkin orang banyak bilang CINTA dimana pembahasan ini memiliki gaya tarik tersendiri dalam kaum remaja bahkan mengalahkan pembahasan akademik ataupun tentang cerita masa lalu yang terkadang membuat kita tertawa terbahak-bahak jika kita melakukan pengingatan kembali(rekontruksi) dan melontarkannya diteman cerita kita. Nah setelah kita membahasnya tentunya kita memiliki rasa penasaran yang tinggi sehingga membuat kita ingin mencicipi bumbu CINTA tersebut, apakah itu mungkin karena tingkat khayalan kita terlalu tinggi ataukah memang itu harus melewati fase seperti itu ? entahlah……. Padahal toh jika dibenturkan dengan banyak cerita cinta terkadang tak seperti dengan konsep cinta pada umumnya yang dimiliki oleh orang, contoh mungkin seperti halnya khalil gibran ataupun mungkin kisah asmara layla majnun yang perjalanan kisahnya terlalu banyak kesedihan dan hanya berlumuran puisi fanatisme yang seakan-akan hanya orang yang dicintainyalah yang paling hebat ataupun baik diantara yang lain, tapi kenapa masih banyak orang yang ingin mencoba bumbu cinta yah? Sedangkan ketika kita sudah memulai membuat resep cinta yang akan diproses dengan memasaknya hingga matang dan menyajikannya dengan nama menjalin hubungan asmara itukan berarti ada pertemuan diantara 1 orang ke orang yang 1 nya lagi sehingga bersatulah mereka, tapi kalau ada kiri berarti ada kanan dan ada pertemuan berarti ada pula perpisahan, sedangkan perpisahan itukan pasti menyakitkan. Tapi kenapa yah masih banyak orang yang ingin tetap mencobanya? Yah tentunya masih berfikir akan hal itu.
Dari beberapa pertanyaan diatas mungkin muncul 1 pertanyaan, apakah semua itu terjadi hanya karena sifat paten manusia yang bisa kita sebut “PENASARAN” ? nah kalau kita mengatakan semua itu karena penasaran, sekarang ada pertanyaan lagi apakah kita penasaran di perjalanan cintanya ataukah cintanya? Mari sama-sama kita petakan. Karena kitakan pasti penasaran di 1 arah saja, nah kalau memang kita penasaran diarah perjalanan cinta, berarti setelah kita mencoba yang dinamakan dengan perjalanan cinta maka penasaran kitapun akan mulai pudar mungkinpun lenyap. Sedangkan kalau kita penasaran dicintanya saja, pasti kita akan bertanya pada diri kita sendiri lagi kalau cinta itu apa? Sedangkan sampai sekarang tak ada orang yang dapat mengartikan cinta itu apa. Kalaupun kita sudah mengetahui apa yang dinamakan dengan cinta apakah penasaran itu sudah mulai pudar karena arti dari sebuah cinta sudah kita ketahui, dan apakah cinta memang hanya sependek sebuah arti ? sedangkan ketika kita tenggelam lebih dalam terhadap cinta maka semakin pula kita akan bertanya-tanya kalau cinta itu apa dan dengan sendirinya kalau cinta hanya sependek sebuah arti itupun terbantahkan.
Tapi kenapa yah kita masih trus ingin mecoba perjalanan cinta yang digambarkan nyata dialam materi, walaupun kita ketahui endinya seperti apa. Dan kenapa juga yah kita masih tetap mencari cinta yang tak pernah nampak dialam materi, sedangkan kitapun tahu kalau semakin kita tenggelam didalamnya semakin pula kita bertanya-tanya kalau cinta itu apa.
Apakah ini yang banyak orang bilang kalau hidup adalah proses pencarian? Dan apakah ini yang banyak orang katakan kalau manusia akan selalu mencari tahu siapa dirinya dan dimana dirinya? Dan juga apakah karena memang kita terlahir sebagai mahluk penasaran.
Entahlah, silahkan kalian renungkan sendiri !!!


by : Rangga Risa Swara (Mahasiswa Fak. Hukum UNHAS)

Comment