Siapa bilang onani itu tidak "menyenangkan"? itu salah satu pelarian kepercayaan diri orang dalam menyalurkan kesenangan pribadinya. Terkadang onani harus terlampiaskan tanpa ataupun ada orang, makanya itu selalu diidentikkan dengan kesenangan tersembunyi. Tapi masalahnya, adakah orang yang ingin onani di depan banyak mata?????
Pansuslah jawabannya!!!! Onani politik dan kepercayaan semakin terasa di pansus century, sampai-sampai orang pada bosan dengan "erangan" mereka. Siapa yang tidak jenuh kalau setiap hari disuguhkan parodi "nakal" itu dan tidak ada perkembangan yang lebih membuka pikiran masyarakat tentang skandal itu...
Tarikan kepentingan di pansus tidak ada bedanya dengan onani seorang pelacur yang berusaha mendapatkan kesenangan pribadi dengan berlindung dibelakang undang-undang. Sadar atau tidak itulah kenyataan yang masyarakat hadapi akhir-akhir ini, walaupun dulunya harapan besar tentang skandal besar itu dipercayakan keapada mereka. tapi akhirnya kepercayaan itupun luntur karena kepentingan tak berpihak kepada rakyat.
Dulunya pansus century menjadi tontonan menarik bagi saya, selain menabah pengetahuan tentang kasus itu juga bisa melihat kinerja anggota dewan terhormat itu secara langsung. Tapi dialektika yang yang mereka perankan akhirnya membuatku lemah, bukan karena saya onani tapi capek melihat mereka onani yang tak berujung. Mulai dari ketidakjelasan itu sampai kejelasan semu yang membosankan.
Biarkan mereka onani sepuasnya, masyarakat tidak peduli. Orang awam hanya ingin mereka dihargai sebagai bagian dari bangsa ini, apakah century berakhir dengan baik atau tidak. Lagian tidak ada jaminan ketika century berakhir dengan baik pendidikan jadi murah, bahan pokok mudah terjangkau atau tidak ada korupsi lagi. Ehm...., cuma kepercayaan itu yang menjadi titipan masyarakat, kalaupun itu dilanggar,,entahlah!!! Hanya sang pencipta bisa menolong!!!!

No comments:
Post a Comment