Anggota Panitia Khusus Angket Kasus Bank Century, Akbar Faizal, mengaku diancam dipecahkan kepalanya karena aktivitas mengusut skandal bank bangkrut itu. Ancaman dari penyelenggara negara itu, kata politisi Partai Hanura itu, masuk melalui telepon dan pesan singkat (SMS).
"Ancaman itu dilakukan lewat telepon langsung kepada saya dan juga via SMS," kata Akbar di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 15 Februari 2010.
"Si pengancam berkata akan memecahkan kepala saya. Dia merasa terganggu dengan penyelidikan tim pansus Makassar, terutama terkait penggalian data yang saya lakukan di sana," ujar Akbar.
Saat di Makassar Sabtu lalu, Akbar dengan intens bertanya pada Amiruddin Rustan, nasabah Bank Century yang dicurigai Pansus. Pada pertemuan itulah, Akbar mengemukakan soal Amiruddin yang diduga memberi bantuan dana kampanye pada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Belakangan, Amiruddin membantah itu.
Menanggapi ancaman tersebut, Akbar tidak akan melakukan apa-apa. "Sebab saya bekerja dengan dijamin konstitusi, dan sudah menjadi kewajiban negara untuk menjamin keselamatan warganya," ujar Akbar yang berdarah Bugis-Makassar itu.
Namun, Akbar kecewa. "Masih ada orang yang notabene bagian dari penyelenggara negara yang masih juga melakukan tindakan premanisme dan tidak terhormat di mata demokrasi seperti ini," ujarnya.

No comments:
Post a Comment